Ruang Belajar

1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna
menyapamentari
menyapamentari

setiap kita memiliki lelahnya sendiri. Yang terlihat baik-baik saja, kita tidak pernah tahu bahwa ternyata sepanjang malamnya ia terjaga untuk mengadukan ketidakmampuannya kepada Allah. Dalam sepi, saat dunia tak melihatnya. Ia melemah hanya kepada Allah.

Barangkali justru itulah yang menjadi kekuatannya untuk menghadapi skenario yang sedang menyapa hidupnya. Hingga ia selalu terlihat baik-baik saja, seberat apapun beban yang sedang ia emban. Sebab, cukuplah kepada Allah ia mengadukan kesusahan dan kesedihannya, terlebih bahagianya.

Adalah doa-doa yang senantiasa menguatkan.

Pembelajaran berharga sore kemarin dari sahabat terbaik,
Jakarta 29 Nopember 2017.
Menyapa Mentari

prawitamutia
prawitamutia

membantu atau tidak

kalau sudah urusan pekerjaan, jenis orang itu hanya ada dua: membantu atau tidak.

ada orang yang baik tapi pekerjaannya nggak beres--atau beres tapi nggak benar. tetap saja orang itu nggak membantu. kenal dengan yang seperti ini?

ada orang pinter banget dan pekerjaannya beres sekaligus benar. tapi cara kerjanya nggak enak, membuat semua orang uring-uringan. tetap saja orang itu nggak membantu. kenal dengan yang seperti ini?

orang yang membantu itu pekerjaannya selalu selesai--dengan benar. hasil pekerjaannya memberikan kebahagiaan bagi orang lain, memudahkan orang lain.

ada orang yang lebih senang selalu tetap pada kontrak kerja. maksudnya, nggak mau melakukan sedikit hal ekstra di luarnya. atau, melakukan yang ada dalam kontrak dengan seadanya. yah, nggak salah sih.

yet going for some extra miles wont hurt. nggak ada salahnya menunjukkan kesungguhan, melakukan yang terbaik, memberi di atas harapan. nggak ada salahnya kita berempati dengan rekan kerja, superordinat/subordinat kita, menolong, membantu.

jadilah seseorang yang dikenang sebagai seseorang yang senang menolong, seseorang yang kehadirannya membantu. barangkali, di hari akhir nanti seseorang yang kamu bantu itu yang menjadi sebabmu masuk surga.

herricahyadi
herricahyadi

Jodoh Dari Dunia Maya

Di linimasa Twitter kemarin cukup ramai topik pernikahan akun perempuan syari yang lumayan famous ketemu dengan cowok yang ngedeketin dia via Twitter juga. Modalnya buku dan kegigihan.

Di Tumblr ini juga banyak kok yang akhirnya dipertemukan. Apakah ini trend baru? Tidak juga. Apakah salah? Di mana letak salahnya? Yang penting itu, kita harus paham bahwa di manapun kita bisa bertemu dengan jodoh; di kampus, di kantor, di organisasi, di Twitter, di Tumblr, di Bumble, di Tinder. Menjadi penting agar kita bisa memilah dan memilih.

Self healing

Ingin mengeluarkan isi hati disini, semoga gak ada yg baca apalagi menghakimi (:

Beberapa hari yg lalu perasaan udh kayak ombak yg naik turun tapi sayangnya gak bisa ditumpahkan. Dimulai dari baca berita yg bahkan untuk merespon saja aku bingung. Saking banyaknya pikiran dan perasaan yg muncul bersamaan jadi satu, daripada di luapkan akhirnya aku memilih diam menahan. Menganalisis diri sendiri, apa sih yg sedang aku rasain ini ? Kecewa ? Marah ? Sedih ? Ngerasa insecure ? Merasa diperlakukan tdk adil ? Benci ? Sampai semua perasaan itu lama-lama bikin menderita juga yaa.

Akhirnya di suatu malam tangisku pecah juga, setelah setengah mati meyakinkan diri bahwa aku “baik-baik saja”. Masih dengan gaya sok kuat berkata dalam hati, haduh gini aja nangis. Mencari alasan dalam hati bahwa sebenarnya aku gak perlu merasakan semua emosi itu. Abaikan saja. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Semakin besar emosi2 negatifnya. Akhirnya mencoba beberapa kali untuk self healing, termasuk meminta bantuan ahli.

Setiap orang punya cara yg berbeda dalam merespon perubahan emosi dalam dirinya. Adalah kesalahan jika merasakan emosi-emosi tersebut tapi memilih untuk memendam atau pura-pura tidak peduli. Kecewa silahkan tapi jangan sampai larut dalam sedih berkepanjangan. Kasian diri sendiri yg makin menderita nanti.

Akhirnya aku memilih untuk menerima keadaanku beserta seluruh emosi-emosi yg sedang ku rasakan. Tidak menyalahkan diri sendiri. Mengikhlaskan (si)apapun yg datang dan pergi. Berat sekali prosesnya, dan tentu saja proses itu masih berjalan sampai saat ini.

Aku masih meyakini bahwa segala sesuatu yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah luput dariku, dan apa yg telah luput dariku memang tidak ditakdirkan untukku.

Tuhan pasti punya rencana indah. Lebih indah dari apa-apa yang sedang ku semogakan. Rencana Tuhan tidak pernah tertebak olehku maupun olehmu. Tugasku saat ini dan seterusnya adalah selalu percaya dan berprasangka baik padaNya termasuk bila itu membuat terluka.

Rabu, 16 Juni 2021

urfa-qurrota-ainy
urfa-qurrota-ainy

Perempuan yang Seharusnya

Suatu ketika, seorang pria mengatakan bahwa perempuan itu harus berada di dalam rumah untuk mengurus anak dan rumah tangga. Urusan mencari nafkah biar menjadi tugas sang suami saja.

Di lain waktu, seorang pria lain berkata bahwa perempuan itu harus punya penghasilan sendiri agar tidak bergantung sepenuhnya kepada nafkah suami. Toh, akan lebih banyak manfaat yang bisa perempuan berikan jika ia punya penghasilan sendiri.

Dua nasihat itu berseberangan, tetapi punya satu kesamaan: Sama-sama disampaikan oleh seorang laki-laki (meski saya tidak menyebut nama, keduanya benar-benar terjadi). Dan, menurut saya itu menarik, sih. Apakah perempuan tidak punya pikiran dan penghayatan terhadap hidupnya sendiri sehingga dua laki-laki itu merasa perlu memberi "keharusan" pada perempuan? Akan tetapi, itu bukan poin utama dari tulisan ini.

Sebagai perempuan, saya tidak sedang menjadikan salah satu nasihat itu sebagai pemuas ego saya untuk merasa lebih benar dari orang lain—meskipun dorongan untuk melakukannya akan selalu ada.

"Tuh, kan, saya yang benar karena jadi IRT."

"Nih, udah bener saya jadi wanita yang punya penghasilan sendiri."

Saya hanya tergelitik untuk mengungkapkan isi hati saya dengan jujur:

Kenapa ada banyak sekali tuntutan terhadap perempuan—termasuk tuntutan dari sesama perempuan dan perempuan itu sendiri? Sejujurnya, standar-standar tentang "perempuan yang seharusnya" sudah ada di level yang memuakkan.

Dan, saya yakin, saya bukan satu-satunya yang merasa muak. Kebanyakan perempuan sudah dididik sedari dini untuk menjadi "perempuan yang seharusnya": harus cekatan, harus bisa multitasking, harus tahu cara mengurus rumah, dsb. Saat perempuan sudah berkeluarga, keharusan-keharusan itu semakin beranak pinak.

Saya enggak bicara ideologi. Kubu "kanan" maupun "kiri" sama-sama membuat standar "perempuan yang seharusnya" dengan ego yang besar. Kenapa saya menggarisbawahi pada ego yang besar? Karena sering kali keduanya hanya ingin menunjukkan kekuatan ideologinya masing-masing saja, bukan untuk menyelesaikan persoalan nyata yang ada di depan mata.

Saya rasa kita perlu menyadari bahwa tuntutan pada perempuan sudah terlalu bising, kecuali kita memang sedang mewajarkan budaya perfeksionisme menjangkiti kepala setiap perempuan dan menjadikannya rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Ya, kecuali kita memang sedang melakukan audisi untuk mencari para superwoman untuk menyelamatkan dunia, saya rasa kita perlu mengurangi tuntutan dan perasaan bahwa diri kita dituntut untuk menjadi seorang wanita serbabisa, super, bahkan kalau bisa sempurna: tampil aduhai sebagai seorang istri, hebat sebagai ibu, jago masak, jago atur duit, cekatan dalam beberes rumah, punya gaji besar, bermanfaat secara sosial, dan selalu terlihat glowing.

Perempuan bukan manusia super yang bisa melakukan semua yang dilakukan laki-laki, ditambah bisa hamil, melahirkan, dan menyusui. Namun, perempuan juga bukan manusia lemah yang tidak boleh punya pilihan, pikiran, dan keinginan. Kita tak butuh berkubu-kubu untuk membicarakan perempuan, kita hanya butuh memanusiakan perempuan.

Ia bisa kuat, ia bisa lemah. Ia bisa berhasil, ia bisa gagal. Ia bisa hebat, ia bisa tumbang. Ia bisa tersenyum, ia bisa menangis. Ia yang sederhana dalam kerumitannya, ia yang rumit dalam kesederhanaannya. Ia yang bisa berpikir dan mengenali dirinya sendiri, ia yang bisa bingung dan kehilangan dirinya sendiri.

Sebagai gantinya, marilah kita para perempuan lebih banyak menelaah diri kita masing-masing (bukan menelaah orang lain). Mari kita hayati keinginan dan kebutuhan kita sendiri. Nilai apa yang kita utamakan, keyakinan apa yang kita percayai, hidup seperti apa yang kita cintai, hal apa yang paling penting untuk kita. Dari situ kita akan menemukan standar kita sendiri. Pilihan apa pun yang kita ambil, selama itu lahir dari penghayatan kita terhadap diri kita sendiri, bukan karena dipaksa atau dituntut orang lain, itu layak kita perjuangkan.

Jikalau ada satu keharusan, maka itu adalah: perempuan harus tahu bahwa tidak semua keharusan yang dikatakan orang lain padanya harus ia anggap sebagai tuntutan yang serius. Jika itu tiba-tiba mengusik hidup yang berjalan damai, biarkan suara itu tenggelam. Seperti sebuah batu yang dilemparkan ke danau, ia hanya memberi riak-riak sejenak, sebelum tenggelam ke dasar danau. Dan, danau itu lambat laun menjadi tenang kembali seperti sediakala.

kayyishwr
urfa-qurrota-ainy

Di ujung hari, saat tubuh sudah lelah, tenaga habis, pikiran penuh, perasaan tidak keruan, lidah terlalu kelu untuk berkisah, jemari pun terlalu bingung untuk menuliskannya, satu-satunya yang bisa berbicara hanyalah hati.

Saat itulah membisikkan "Alhamdulillah" dalam hati terasa sangat nikmat.

"Alhamdulillah" adalah satu kata yang menyembunyikan banyak cerita getir manusia, yang hanya diketahui oleh dirinya dan Tuhannya.

"Alhamdulillah, baik", padahal hanya berusaha terlihat baik-baik saja.

"Alhamdulillah, senang," padahal ada kesedihan yang tidak diumumkan.

"Alhamdulillah, berhasil," padahal ada kegagalan yang disimpan sendirian.

Semoga semua yang tengah menguatkan diri di balik "Alhamdulillah" diberi kelapangan dan kebahagiaan yang sejati. ☺️

kurniawangunadi

Perubahan Sudut Pandang

kurniawangunadi

Saya ketika sebelum menikah dan setelah menikah, memiliki cara pandang yang berbeda terkait pernikahan. Sesuatu yang kemudian membuatku memberikan nasihat jika diminta, ke teman yang hendak menikah. 

Lebih baik gagal di tengah-tengah proses daripada gagal di dalam pernikahan.

Artinya, kalau kamu melihat ada potensi masalah yang besar antara kamu dan calon pasangan, lebih baik gak usah lanjut, dengan segala risikonya; batalin undangan meski udah kesebar, perkataan orang, dll.

Membuat keputusan untuk membatalkan lamaran/pernikahan, konsekuensinya jauh lebih ringan daripada bercerai di tengah pernikahan. Karena cerai lebih ribet, tidak hanya urusan administrasinya yang melelahkan, belum lagi jika sudah ada anak dan berebut hak asuh, belum lagi dengan status sosial yang nanti akan dibawa (janda/duda), dll.

Untuk teman-teman yang hendak menikah, jika memang belum siap. Lebih baik jangan. Jika kamu sudah siap dan belum menemukan yang menurutmu tepat untuk menjadi pasangan hidup, jangan mau menerima seadanya sekalipun mungkin usiamu bertambah tua. 

Jika kamu seorang muslim dan tahu kalau pernikahan itu bernilai setengah agama, jangan sampai yang setengah ini rusak karena kamu terlalu gegabah dan menggebu-gebu tapi tidak rasional ketika mau menikah. Sudah rusak setengah dan kita juga tidak bisa menjamin setengah agama lainnya juga baik.

Jika kamu ingin menikah dengan seseorang, tanyakanlah segala sesuatu yang ingin kamu tanyakan sampai tak bersisa. Tak perlu sungkan untuk menanyakannya, tak perlu takut. Kalau kemudian dia merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurutmu penting, berarti dia tidak menganggap penting apa yang bagimu penting. Dan jika dia tidak mau diajak duduk bersama membicarakannya, entah tentang finansial, keluarga, dan apapun yang menurutmu ingin diperjelas sebelum menikah, sementara dia tidak mau membicarakannya. Saranku, mending cari yang lain.

Menikah dengan orang yang tidak bisa diajak berdiskusi dengan mudah itu akan jadi tantangan tersendiri. Kita tidak bisa menikah bermodal kepercayaan bahwa nanti dia akan berubah, itu mungkin untuk hal-hal yang tidak begitu krusial/prinsip. Tapi pada hal-hal yang prinsip, kita tidak bisa memakai cara pandang itu. Apalagi, sepanjang pernikahan nanti, kita akan membutuhkan banyak sekali diskusi. Saranku, pastikan pasanganmu adalah orang yang bisa diajak diskusi, bisa menerima masukan, terbuka terhadap kritik/saran, dan mau belajar.

Dan pada akhirnya, kalau memang tidak siap. Lebih baik, gunakan energimu untuk bersiap. Kalau kamu masih memiliki ambisi yang ingin kamu dapatkan sebelum menikah, kejarlah. Kalau kamu ingin tetap menjadi dirimu sendiri ketika nanti sudah menikah, menikahlah dengan orang yang tepat. 

Tepat yang seperti apa? Kamu yang bisa merasakannya nanti. Nanti, ketika sudah ada orangnya yang akan menikah denganmu. Kita tidak bisa menuliskan ketetapan itu dalam barisan kriteria. Dan mungkin, tidak akan ada orang yang bisa memenuhi semua kriteria itu dalam satu waktu. 

Kalau sudah ada orangnya dengan segala kekurangannya. Kamu akan bisa merasakan, mana yang kiranya kamu bisa terima sebagai pasangan hidup dan mana yang tidak. 

17 Maret 2021 | ©kurniawangunadi



kotak-nasi
kotak-nasi:
“——–
Pilihannya untuk tidak memilihmu, adalah pilihannya. Terus bertanya mengapa, merasa diperlakukan tidak adil, membencinya, menganggapnya jahat, tidak akan mengubah hatinya, melainkan mengubah hatimu; tentu menjadi lebih...
kotak-nasi

——–
Pilihannya untuk tidak memilihmu, adalah pilihannya. Terus bertanya mengapa, merasa diperlakukan tidak adil, membencinya, menganggapnya jahat, tidak akan mengubah hatinya, melainkan mengubah hatimu; tentu menjadi lebih menderita.
-
Jika takmau dengar pendapatku, tak mengapa. Tetapi semoga tidak dengan perkataan Imam Syafi'i ini: “Hatiku merasa lega mengetahui bahwa sesuatu yang telah ditakdirkan untukku tidak akan pernah luput dariku. Dan apa yang telah luput dariku berarti memang takpernah ditakdirkan untukku.”
-
Tidak ada yang berhak melarangmu bersedih, merasakan kecewa hingga dalam serta perasaan-perasaan ‘mematikan’ lainnya. Tapi jika sudah terlihat sangat menderita, banyak orang merasa punya kewajiban untuk mengingatkanmu.
-
Tuhan, yang kamu percaya itu, selalu punya rencana. Indahnya akan jauhhhhhh dibandingkan dengan yang kamu damba; ‘sebatas’ menjadi pasangannya lalu hidup bahagia membagi cinta sampai tua.
-
Tuhan, yang kamu percaya itu, punya jawaban lain dari satu ditambah satu. Tidak pernah tertebak olehku, olehmu, oleh kita. Karena ketidaktertebakan-Nya itulah, setelah ini alangkah indah bila kita hanya perlu percaya pada apa pun rencana-Nya. Termasuk bila itu membuat kita terluka.
——–
https://www.instagram.com/p/B2Fk-kJncE_/?igshid=tyxf5686u6ig

prawitamutia
prawitamutia

semakin dewasa

semakin takut ngomongin orang lain. takut kalau suatu hari kita jadi seperti yang diomongin. takut karena yah, kita cuma beda dosa aja.

semakin hati-hati membuat komitmen. lebih banyak menolak daripada menerima. lebih banyak berkata tidak daripada berkata iya. punya not-to-do list alih-alih to-do list saja.

semakin sabar urusan rezeki. sudahlah, yang memang untuk kita pasti akan datang dari mana pun itu. yang bukan untuk kita, nggak akan sampai meskipun sudah di depan mata. juga, semakin sadar bahwa setiap manusia bisa jadi wasilah rezeki bagi manusia lain. termasuk diri kita.

semakin bersyukur sama pasangan, anak, dan keluarga. rasanya, di luar sana orang tuh macam-macam banget. kadang artinya "ada-ada saja". pasangan yang setia, terbuka, dan menyayangi itu sangat istimewa. selebihnya maafkan dan terima.

semakin ingin mengikhlaskan. barang-barang, kepemilikan, masa lalu, luka, beban. ingin semua bersih agar setiap hari bisa berjalan dengan hati ringan.

semakin yakin dengan jalan yang dipilih. ternyata nggak berubah, krisis identitas itu selalu ada di setiap fase hidup. tugas kita adalah membuat kapital identitas yang jauh lebih besar daripada krisisnya. caranya, tetap teguh berjalan pada pilihan. jadilah pemenang yang sabar.

semakin sadar betapa kecilnya manusia. bumi Allah luas, kekuasaan Allah tinggi, Allah Mahabesar. nggak ada yang nggak mungkin bagi Allah.

semakin sayang orang tua. ya Allah, muliakanlah kedua orang tua kami.